Menanam Padi vs Menanam Kebaikan: Tak Selalu Panen di Ladang yang Sama
Kita mungkin tahu di mana padi akan dipanen. Tetapi ketika menanam kebaikan, kita tidak pernah tahu melalui siapa dan dari arah mana kebaikan itu akan kembali.
Suatu sore, seorang sekretaris muda yang baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya menerima telepon dari seorang OB di kantor lamanya.
Mereka sudah cukup lama saling mengenal. Setelah berbasa-basi beberapa saat, sang OB akhirnya menyampaikan alasan mengapa ia menelepon.
Anaknya sedang sakit dan membutuhkan uang sekitar Rp100.000 untuk berobat.
Kebaikan Kecil di Akhir Bulan
Sang sekretaris muda terdiam sejenak.
Bukan karena ia tidak ingin membantu. Kondisi keuangannya sendiri saat itu sebenarnya sedang tidak begitu baik. Akhir bulan sudah tiba dan uang yang tersisa di rekeningnya hanya sekitar Rp100.000.
Tetapi ia tetap ingin membantu sebisanya.
“Uang saya akhir bulan ini tinggal Rp100 ribu. Kalau kamu perlu, saya bisa bantu transfer Rp50 ribu saja.”
Sang OB pun menjawab sederhana,
“Terima kasih, Bu...”
Hanya Rp50.000.
Bagi sebagian orang jumlah tersebut mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi seorang ayah yang sedang membutuhkan biaya untuk mengobati anaknya, Rp50.000 dapat memiliki arti yang sangat berbeda.
Saat memberikan uang tersebut, perempuan muda itu sama sekali tidak memikirkan balasan.
Tiga Hari Kemudian
Tiga hari berlalu.
Sekretaris muda yang biasa dipanggil Nay itu sedang berbincang santai melalui chat dengan seorang kenalan lamanya.
Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang mimpi, kehidupan, dan harapan.
Tidak ada keluhan soal keuangan.
Tidak ada cerita bahwa ia sedang kesulitan.
Apalagi permintaan untuk dibantu.
Namun tiba-tiba temannya bertanya,
“Nay... uang di saldo kamu tinggal berapa?”
Dengan polos ia menjawab,
“Tinggal Rp50 ribu.”
Temannya lalu berkata,
“Aku transfer Rp500 ribu ya.”
Nay tentu saja bingung.
“Kenapa?”
Jawaban temannya bahkan lebih membingungkan.
“Hobi.”
Tidak lama setelah percakapan itu, sebuah notifikasi muncul.
Bukan Rp500.000 seperti yang sebelumnya dikatakan.
Temannya ternyata mengirim Rp1.000.000.
Ternyata Ceritanya Belum Selesai
Tiga hari kemudian Nay kembali berbincang dengan temannya tersebut.
Kali ini sang teman menceritakan sesuatu yang terjadi setelah dirinya mentransfer uang kepada Nay.
Salah seorang anak buahnya di sebuah proyek menghubunginya membawa kabar baik.
Proyek yang sedang dikerjakan ternyata dapat menghemat biaya material sekitar Rp14 juta.
Tim proyek menemukan bahwa sejumlah material sisa masih dalam kondisi baik dan dapat digunakan kembali. Karena itulah mereka tidak perlu membeli seluruh material baru seperti yang sebelumnya direncanakan.
Penghematannya bukan puluhan ribu.
Bukan pula ratusan ribu.
Tetapi sekitar empat belas juta rupiah.
Nay memberikan Rp50 ribu kepada seseorang yang membutuhkan. Beberapa hari kemudian seseorang memberikan Rp1 juta kepadanya. Setelah itu, orang yang memberi Rp1 juta justru memperoleh penghematan proyek sekitar Rp14 juta.
Menanam Padi vs Menanam Kebaikan
Ada sebuah perumpamaan sederhana yang mungkin dapat menjelaskan cerita ini.
Ketika kita menanam padi di sebuah ladang, kita tahu ke mana harus datang ketika musim panen tiba.
Kita menanam di ladang itu.
Kita merawatnya di sana.
Maka kita berharap akan memanen padi dari tempat yang sama.
Tetapi ketika kita menanam kebaikan, cara kerjanya mungkin berbeda.
Jangan menentukan bahwa seseorang yang kita bantu hari ini harus menjadi orang yang membalas kebaikan kita suatu hari nanti.
Jangan pula menentukan seperti apa bentuk pengembaliannya.
Sebab bisa jadi kebaikan yang kita tanam hari ini justru tumbuh di tempat yang sama sekali tidak pernah kita duga.
Kebaikan Tidak Selalu Kembali dalam Bentuk Uang
Kisah ini juga tidak berarti bahwa setiap kali kita memberikan Rp50.000, beberapa hari kemudian kita pasti mendapatkan Rp1 juta.
Kebaikan bukan transaksi.
Ia bukan investasi yang menjanjikan persentase keuntungan tertentu.
Justru nilai sebuah kebaikan berada pada ketulusan ketika kita melakukannya tanpa mengetahui bagaimana hasilnya.
Bisa jadi kita membantu seseorang hari ini, lalu di masa depan pertolongan datang melalui orang yang sama sekali berbeda.
Bahkan balasan sebuah kebaikan tidak harus selalu berupa materi.
Mungkin ketika kita sedang mengalami kesulitan, seseorang datang menawarkan pertolongan.
Mungkin ketika kita sedang kehilangan semangat, seseorang mengucapkan satu kalimat yang membuat kita kembali berdiri.
Atau mungkin ketika kita sedang bersedih, ada orang asing yang tidak pernah mengenal cerita hidup kita, tetapi tiba-tiba tersenyum dan membuat hari itu terasa sedikit lebih ringan.
Jangan terlalu sibuk menentukan dari ladang mana kebaikanmu harus kembali. Tugas kita adalah menanamnya. Biarkan kehidupan menentukan di mana ia akan tumbuh.
Jangan Sibuk Menghitung Kebaikan
Mungkin salah satu bagian terindah dari cerita ini adalah ketika Nay memilih memberikan separuh uang yang tersisa di rekeningnya.
Ia tidak memiliki banyak.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang bisa dibagikan.
Dan ketika kesempatan untuk membantu datang, ia memilih berbagi.
Tanpa kontrak.
Tanpa janji.
Tanpa mengetahui apakah suatu hari kebaikan tersebut akan kembali kepadanya.
Kebaikan Punya Jalan Pulangnya Sendiri
Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh perjalanan sebuah kebaikan setelah kita melepaskannya.
Sebuah senyuman sederhana mungkin membantu seseorang melalui hari yang sangat berat.
Sebuah kalimat dukungan mungkin membuat seseorang berani mencoba sekali lagi.
Dan uang Rp50.000 yang terlihat sederhana mungkin menjadi bagian dari biaya obat seorang anak yang sedang sakit.
Maka jangan berhenti berbuat baik hanya karena orang yang pernah kita bantu tidak membalas.
Jangan kecewa ketika kebaikan kita tidak kembali melalui pintu yang sama.
Karena kita bukan sedang menanam padi.
Kita sedang menanam kebaikan.
Dan kebaikan mempunyai ladang yang jauh lebih luas daripada yang mampu kita lihat.
Tanamlah sebanyak-banyaknya.
Jangan terlalu sibuk menghitung kapan panennya.
Karena jika padi biasanya dipanen di ladang tempat ia ditanam, kebaikan bisa dipanen di mana saja.